Soroti Eksistensi Musik Tradisional, Yayasan Svara Bumei Betuah Gelar Wicara "Gelombang Baru Musik Indonesia"

BERITA

11/29/20251 min read

BENGKULU – Di tengah gempuran tren musik modern dan globalisasi, masa depan serta posisi musik tradisi kerap menjadi pemikiran besar bagi para pegiat budaya. Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Svara Bumei Betuah kembali memfasilitasi ruang diskusi kritis melalui platform daring dalam agenda Gelar Wicara Episode #3: Ruang Svara, yang sukses diselenggarakan pada Sabtu malam, 29 November 2025.

Dengan tajuk yang cukup provokatif dan mendalam, "Gelombang Baru Musik Indonesia: Di Mana Posisi Nada-Nada Tradisi?", diskusi ini disiarkan secara langsung melalui platform Zoom serta kanal YouTube resmi @SVARABUMEIBETUAH mulai pukul 19:30 WIB hingga selesai.

Menghadirkan Perspektif Akademisi dan Praktisi

Guna membedah tema tersebut dari berbagai sudut pandang, penyelenggara menghadirkan dua narasumber yang ahli di bidangnya:

  • Aristofani Fahmi (Perwakilan dari Konstelasi Artistik Indonesia)

  • Armen Suwandi (Seorang Praktisi Musik Tradisi)

Jalannya diskusi dipandu dan dipantik secara mendalam oleh Andika Eri Putra, yang juga merupakan Founder dari Yayasan Svara Bumei Betuah.

Menakar Eksistensi Tradisi di Era Modern

Dalam pemaparannya, para narasumber membahas bagaimana instrumen dan esensi nada-nada tradisi Nusantara sebenarnya memiliki peluang besar untuk masuk ke dalam 'gelombang baru' industri musik Indonesia. Diskusi ini menekankan bahwa musik tradisi tidak boleh hanya sekadar menjadi artefak masa lalu yang kaku, melainkan harus mampu beradaptasi, berkolaborasi dengan genre modern, namun tetap menjaga nilai-nilai luhur dan otentisitasnya.

Kolaborasi antara pemikiran konseptual dari Aristofani Fahmi dan pengalaman empiris Armen Suwandi di lapangan memberikan wawasan segar bagi para peserta mengenai strategi mengemas musik tradisi agar lebih relevan dan diminati oleh generasi muda.

"Melalui Ruang Svara Episode #3 ini, kami ingin memicu kesadaran para musisi daerah bahwa nada-nada tradisi kita memiliki kekayaan estetika yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kita memposisikannya di tengah gelombang musik modern saat ini agar tetap berdaya saing," ungkap Andika Eri Putra selaku pemantik diskusi.

Diskusi publik yang digelar secara gratis ini mendapat respons positif, terbukti dengan hadirnya puluhan peserta dari berbagai kalangan mulai dari seniman, mahasiswa, akademisi, hingga pencinta musik yang terlibat aktif dalam sesi tanya jawab interaktif.