Mengapa Musisi Harus Mulai Menulis untuk Masa Depan Pendidikan Kita?

ARTIKEL

Admin

5/25/20263 min read

person playing guitar
person playing guitar

Dunia musik kita hari ini masih sering dipisahkan oleh dua ruang yang berbeda. Musisi dianggap hanya bekerja di panggung, sementara peneliti bekerja di perpustakaan atau ruang akademik. Akibatnya, banyak karya musik hebat lahir setiap hari, tetapi hilang begitu saja setelah pertunjukan selesai. Karya itu dinikmati sesaat, lalu menguap tanpa meninggalkan jejak pengetahuan yang bisa dipelajari generasi berikutnya.

Di sisi lain, sekolah vokasi dan perguruan tinggi seni justru mengalami kekurangan bahan ajar yang dekat dengan realitas musik kita sendiri. Banyak guru dan dosen masih bergantung pada referensi lama atau teori dari luar negeri yang kadang kurang sesuai dengan budaya lokal. Padahal, Indonesia memiliki banyak musisi hebat dengan pengalaman kreatif yang sangat kaya.

Masalahnya bukan karena kita kekurangan karya, tetapi karena karya-karya tersebut jarang didokumentasikan dengan baik.

Karena itu, sudah saatnya musisi tidak hanya menciptakan musik, tetapi juga mulai menulis dan meneliti proses kreatifnya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Composer-Researcher musisi yang sekaligus menjadi peneliti bagi karyanya sendiri.

Dari Sekadar Bunyi Menjadi Pengetahuan

Seorang musisi sebenarnya menyimpan banyak pengetahuan penting di balik setiap karya yang ia ciptakan. Ia tahu mengapa memilih ritme tertentu, bagaimana membangun harmoni, atau apa makna yang ingin disampaikan melalui musiknya. Sayangnya, semua itu sering hanya tersimpan di kepala dan tidak pernah ditulis.

Ketika proses kreatif itu didokumentasikan, musik tidak lagi hanya menjadi hiburan, tetapi juga sumber ilmu pengetahuan.

Bayangkan seorang siswa SMK Musik ingin belajar membuat aransemen musik tradisi modern. Jika musisi hanya mengunggah lagu ke YouTube tanpa penjelasan, siswa hanya bisa meniru lewat pendengaran. Namun jika musisi juga menuliskan proses kreatifnya, siswa dapat memahami cara berpikir di balik karya tersebut.

Di sinilah pendidikan berubah. Siswa tidak hanya belajar memainkan nada, tetapi juga belajar memahami struktur, konsep dan filosofi musik.

Pendidikan Membutuhkan “Arsip Hidup”

Di perguruan tinggi, banyak mahasiswa kesulitan mencari data untuk penelitian atau tugas akhir karena banyak maestro musik hanya bisa mempraktikkan, tetapi tidak terbiasa menjelaskan secara tertulis.

Padahal, jika para musisi mulai menulis, kampus akan memiliki “arsip hidup” yang sangat berharga. Musik tidak hanya menjadi tontonan atau hiburan, tetapi bisa dipelajari, dianalisis, dikembangkan, bahkan dipentaskan ulang oleh generasi berikutnya.Karya musik akhirnya memiliki umur yang lebih panjang.

Mengapa Musisi Perlu Meneliti?

Ada beberapa alasan penting mengapa musisi perlu mulai menulis dan meneliti karya mereka sendiri.

Pertama, menjaga dan mewariskan pengetahuan. Banyak musik tradisi Indonesia diwariskan secara lisan. Jika tidak segera didokumentasikan dalam bentuk notasi, tulisan, atau arsip digital, banyak pengetahuan berisiko hilang bersama waktu. Dengan dokumentasi yang baik, karya bisa dipelajari dan dimainkan kembali oleh siapa saja, termasuk siswa di daerah lain.

Kedua, memperdalam kualitas karya. Riset membuat musisi lebih reflektif terhadap proses kreatifnya. Ketika seorang komposer memahami akar budaya, bunyi, dan identitas musiknya sendiri, karya yang lahir biasanya menjadi lebih kuat dan memiliki ciri khas.

Ketiga, menghadapi era digital dan AI. Di masa depan, karya yang memiliki dokumentasi lengkap akan lebih mudah dikenali dan dihargai secara global. Jika musisi tidak mengarsipkan gagasannya sendiri, ada risiko karya mereka tenggelam di tengah algoritma digital atau bahkan diklaim pihak lain.

Membangun Budaya Literasi Musik

Untuk mewujudkan hal ini, musisi perlu didukung dengan kemampuan literasi dasar, seperti menulis ulasan musik, memahami etnomusikologi, membuat anotasi karya, hingga menggunakan perangkat lunak notasi musik.

Kita perlu membangun budaya baru, musisi merasa bangga bukan hanya ketika lagunya viral, tetapi juga ketika karyanya menjadi buku, partitur, atau bahan pembelajaran di sekolah dan kampus.

Bayangkan jika setiap konser atau album baru juga disertai buku proses kreatif, partitur, atau jurnal sederhana. Guru-guru seni akan lebih mudah mencari bahan ajar dan mahasiswa memiliki sumber belajar yang relevan dengan dunia nyata.

Musisi Bukan Sekadar Penghibur

Meningkatkan kapasitas musisi menjadi peneliti bukan berarti menambah beban administratif. Justru sebaliknya, ini adalah cara memberi “umur panjang” bagi karya mereka.

Musisi tidak hanya menciptakan bunyi yang menghibur sesaat, tetapi juga meninggalkan warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Sudah waktunya musisi mengambil peran lebih besar dalam membangun peradaban. Tidak hanya berbicara lewat nada, tetapi juga lewat tulisan. Karena karya yang ditulis dan didokumentasikan dengan baik tidak akan berhenti sebagai tepuk tangan di atas panggung, melainkan akan hidup terus di ruang-ruang kelas, perpustakaan, dan ingatan generasi masa depan.