
Bengkulu (Daring) – Yayasan Suara Bumi Betuah kembali menggelar diskusi hangat dalam “Gelar Wicara Ruang Suara Episode Ketiga”. Diskusi ini menyoroti hasil Konferensi Musik Indonesia (KMI) yang baru saja usai, dengan fokus utama: Di mana posisi musik tradisi di tengah arus industri musik modern dan global?
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman: Armen Suwandi (Om Armen), Ketua Citra Art Studio dan musisi tradisi senior, serta Aristofani Fahmi (Bang Ito) dari Konstelasi Artistik Indonesia yang juga terlibat langsung dalam tim kerja KMI.
Angin Segar dari Konferensi Musik Indonesia (KMI)
Bang Ito membuka wawasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar KMI. Awalnya, konferensi ini didominasi oleh isu industri musik populer (royalti, kesejahteraan, teknis panggung). Namun, Bang Ito dan rekan-rekannya mendesak agar musik tradisi tidak sekadar menjadi “ornamen”, melainkan agenda strategis.
Hasilnya, dari 15 butir rekomendasi KMI, isu musik tradisi berhasil masuk dalam topik “Musik di Hulu”. Beberapa poin krusial yang sedang digodok meliputi:
-
Revisi Kurikulum Pendidikan: Mengubah materi dan metode pelajaran musik di sekolah yang selama ini terlalu “Barat” (misalnya penggunaan istilah dan ketukan 4/4) agar memberikan porsi lebih besar pada musik tradisi.
-
Pemanfaatan Aset BUMN: Rencana kolaborasi dengan Danantara untuk menyulap aset-aset terbengkalai (seperti gedung kantor pos tua atau area bandara) menjadi venue pertunjukan seni dan hub kreatif di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua.
-
Reformasi Perizinan & Kompetensi: Uji coba penyederhanaan izin festival dan pemutakhiran Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) agar profesi di dunia musik lebih diakui dan terstandarisasi.
Bang Ito menegaskan bahwa saat ini ekosistem sedang dibangun dengan target peta jalan (roadmap) hingga tahun 2029. “Pemerintah sedang menyiapkan ekosistemnya. Jangan sampai ketika ekosistemnya jadi, musisi tradisi malah tidak siap dengan karyanya,” ujarnya.

Realita di Lapangan, Jangan Hanya Menunggu.
Di sisi lain, Om Armen memberikan pandangan yang lebih filosofis sekaligus realistis. Sebagai pelaku yang sudah puluhan tahun berkecimpung, ia mengingatkan agar musisi tradisi tidak terlena menunggu kebijakan atau bantuan pemerintah.
“Musik tradisi itu ada dalam darah kita, dia tidak akan mati. Yang sering bermasalah itu egonya,” tegas Om Armen.
Poin penting dari Om Armen meliputi:
-
Kemandirian (Berdikari): Seniman harus tetap bergerak dan berkarya meski tanpa dukungan kebijakan. Citra Art Studio adalah contoh nyata komunitas yang bertahan dan berkembang secara mandiri.
-
Pentingnya “Racun” dalam Karya: Agar relevan dengan anak muda, musik tradisi harus memiliki “pesona” atau hook yang kuat. Sah-sah saja menggabungkan tradisi dengan teknologi modern, asalkan musisi paham betul akar tradisinya. “Ibarat kuku dan daging, tradisi dan modernitas bisa menyatu tanpa saling menghilangkan,” tambahnya.
-
Kekompakan Komunitas: Kritik tajam dilontarkan terhadap ego sektoral antar kelompok seni di daerah. Musisi tradisi harus kompak dan saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.
Tantangan Regenerasi dan Panggung
Diskusi juga menyoroti mengapa musik tradisi seringkali hanya menjadi “pembuka” acara dan kurang diminati anak muda dibandingkan musik pop yang tampil di venue hits seperti M Block atau Pos Block.
Bang Ito menjelaskan bahwa membuat karya musik hanyalah 25% dari pekerjaan. Sisa 75%-nya adalah strategi komunikasi, branding, dan marketing. Musisi tradisi perlu belajar strategi ini agar karyanya relevan dan “sampai” ke telinga generasi muda. Selain itu, masalah pendidikan juga disorot, di mana banyak guru seni di sekolah hanya mengajarkan teori tanpa praktik karena kurangnya kompetensi, sehingga kolaborasi dengan sanggar-sanggar lokal menjadi solusi mendesak.

Pertemuan ini menyimpulkan bahwa Konferensi Musik Indonesia membawa harapan baru melalui 15 rekomendasinya, terutama terkait infrastruktur dan kurikulum. Namun, regulasi hanyalah wadah. Kunci keberlanjutan musik tradisi tetap berada di tangan para seniman itu sendiri: untuk terus berkarya dengan kualitas yang memiliki “daya pikat”, beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar, dan menjaga kekompakan komunitas di daerah.


Tinggalkan Balasan