Setiap bulan Muharram, jalanan Bengkulu bergetar oleh bunyi dol dan kemegahan bangunan Tabut yang menjulang. Namun, ada sebuah pertanyaan melankolis yang selalu muncul setelah ritual Tebuang selesai, Apakah esensi Tabut juga ikut larut dalam pembuangan atau ia bisa menetap menjadi kekuatan ekonomi sepanjang tahun?

Selama ini, kita terjebak dalam pola pikir “Event-Based Tourism“. Kita merayakan Tabut sebagai festival tahunan, namun gagal menjadikannya sebagai aset ekonomi yang bernapas setiap hari. Jawabannya bukan lagi sekadar menambah durasi festival, melainkan melakukan Transformasi IP (Intellectual Property).

Dari Ritual ke Karakter Menghidupkan “Jiwa” yang Statis

Masalah utama dari budaya tradisional dalam kacamata generasi Gen Z dan Alpha adalah jarak. Tradisi seringkali dianggap “sakral namun jauh”. Dengan mengadopsi skema IP Karakter seperti yang sering didorong melalui ekosistem Indonesia Creative Cities Network (ICCN) kita sedang memberikan “wajah” dan “suara” pada tradisi.

Bayangkan jika motif dan filosofi Tabut dipersonifikasi menjadi karakter maskot yang memiliki backstory kuat. Ia bukan sekadar gambar di kaos oblong (merchandise standar), melainkan entitas yang memiliki komik web, stiker digital, hingga aset di dunia metaverse. Karakter ini menjadi duta budaya yang “berbicara” dengan bahasa global tanpa kehilangan akar filosofisnya.

Standarisasi di Tengah Keberagaman

Salah satu hambatan besar pengembangan kreatif di daerah adalah masalah konsistensi. Inilah mengapa IP Incubation menjadi krusial. Melalui penyusunan IP Bible atau Brand Guide, kita memastikan bahwa visualisasi Tabut sebagai produk kreatif memiliki standar kualitas yang sama, baik saat ia muncul di kemasan kopi lokal Bengkulu maupun saat berkolaborasi dengan brand internasional.

Sebagai pendidik vokasi, saya melihat ini sebagai peluang emas bagi SMK-SMK di Bengkulu, khususnya jurusan DKV, Animasi, dan Broadcasting. Siswa tidak lagi hanya belajar “cara menggambar”, tapi belajar “cara membangun nilai ekonomi dari sebuah karakter”.

 “Matchmaking” dan City Branding Modern

IP yang kuat adalah magnet bagi investasi. Melalui mekanisme IP Matchmaking, pemerintah daerah tidak perlu lagi pusing memikirkan anggaran promosi yang masif secara terus-menerus. Jika sebuah IP Karakter asal Bengkulu berhasil masuk ke pasar nasional misalnya melalui kolaborasi dengan produk FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) maka secara otomatis nama Bengkulu ikut terangkat.

City branding yang berbasis IP jauh lebih efektif daripada sekadar slogan di baliho. Ia bersifat sustainable (berkelanjutan) dan memiliki ekosistem ekonomi yang berputar di tingkat akar rumput (kreator lokal).

Menjual Narasi, Bukan Sekadar Visual

Untuk membawa Tabut ke panggung global, kita harus fokus pada tiga pilar:

  • Orisinalitas: Mengambil esensi ritual (seperti prosesi Mengambil Tanah atau Duduk Penja) menjadi elemen desain yang unik.
  • Komersialisasi: Memastikan produk turunannya (gim, fashion, kriya) memiliki daya serap pasar.
  • Sustainability: Membangun roadmap 5-10 tahun. Hari ini stiker WhatsApp, tahun depan animasi pendek, lima tahun lagi menjadi ikon taman tematik.

 Budaya yang Tidak Lagi “Tidur”

Tradisi tidak boleh hanya menjadi artefak yang dipajang setahun sekali. Tabut memiliki energi yang terlalu besar untuk sekadar menjadi kenangan foto di galeri ponsel. Dengan transformasi menjadi Intellectual Property, kita sedang memastikan bahwa api kreativitas Bengkulu tetap menyala, memberikan penghidupan bagi para kreatornya, dan menjadi kebanggaan yang diakui dunia.

Ini bukan soal mengomersialkan hal yang sakral, melainkan mensakralkan kreativitas agar tradisi kita tidak mati ditelan zaman. Mari beraksi saatnya “Tabut” melanglang buana dalam bentuk yang baru.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *