Diskusikan Tata Kelola Seni Era Modern, Yayasan Svara Bumei Betuah Gelar Wicara ‘Membedah Dapur’ Bersama Ojax Manalu

BERITA

admin

5/22/20261 min read

BENGKULU – Perkembangan zaman menuntut para pelaku industri kreatif dan seni untuk terus beradaptasi, tidak hanya dalam urusan menciptakan karya, tetapi juga dalam aspek manajemen. Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Svara Bumei Betuah sukses menggelar diskusi daring melalui platform Zoom bertajuk Gelar Wicara Episode #6: Ruang Svara, pada Kamis malam, 21 Mei 2026.

Mengusung tema "Membedah Dapur: Tata Kelola Seni di Era Modern", diskusi interaktif ini menghadirkan tokoh penting dari ekosistem seni Indonesia, Ojax Manalu, selaku perwakilan dari Rumah Karya Indonesia, sebagai narasumber utama. Sementara itu, jalannya diskusi dipandu langsung oleh Meldhan Ade Putra dari Yayasan Svara Bumei Betuah selaku host sekaligus moderator.

Pentingnya Manajemen dan Tata Kelola Seni

Dalam pemaparannya, Ojax Manalu membagikan pengalaman empirisnya mengenai bagaimana "dapur" sebuah organisasi seni harus dikelola secara profesional di era digital. Menurutnya, tata kelola seni modern tidak lagi sekadar tentang estetika panggung, melainkan mencakup manajemen program yang berkelanjutan, adaptasi teknologi, serta kemampuan membangun jaringan (networking) yang inklusif.

Diskusi berjalan hangat dan interaktif. Salah satu poin menarik yang sempat mencuat dari sesi tanya jawab peserta adalah mengenai konsep tata kelola yang bersifat eksklusif dalam ekosistem seni serta bagaimana menyikapinya agar ruang kreatif tetap dapat diakses oleh publik luas dengan manajemen yang tetap rapi dan terukur.

Antusiasme Peserta

Meskipun dilaksanakan secara virtual mulai pukul 19:20 WIB, antusiasme peserta yang bergabung dari berbagai latar belakang terlihat sangat tinggi. Ruang virtual dipenuhi oleh para praktisi seni, akademisi, dan pegiat komunitas kreatif yang aktif melontarkan pertanyaan dan bertukar ide di kolom obrolan (chatbox) hingga akhir acara.

"Kegiatan Ruang Svara ini diharapkan dapat terus menjadi ruang alternatif yang segar bagi para pelaku seni, khususnya di daerah, untuk menimba ilmu, menyelaraskan perspektif, dan membangun ekosistem seni yang lebih mandiri serta profesional ke depannya," ujar perwakilan penyelenggara.

Acara ditutup dengan sesi dokumentasi bersama yang memperlihatkan senyum optimisme para peserta dan narasumber demi kemajuan tata kelola seni dan budaya yang lebih mapan di tanah air.