Oleh. Rudi Nofindra

Peresmian Belungguk Point di Kota Bengkulu baru-baru ini adalah sebuah sinyal positif. Secara etimologis, mengambil kata “Belungguk” (bahasa daerah Bengkulu yang berarti berkumpul atau menumpuk) adalah langkah branding yang cerdas. Ini menegaskan bahwa ruang publik tersebut dibangun di atas fondasi kearifan lokal. Namun, saya melihat peresmian infrastruktur fisik hanyalah 10% dari pekerjaan rumah besar menjadikan Bengkulu sebagai Kota Kreatif yang sesungguhnya. Tantangan sebenarnya dimulai tepat setelah pita peresmian dipotong.

Tantangan terbesar pasca-peresmian Belungguk Point adalah memastikan ia tidak berakhir sekadar menjadi monumen mati atau lokasi swafoto yang sepi setelah viral sesaat. Selama ini, Bengkulu sering kali terjebak dalam euforia pembangunan fisik (hardware), namun gagap dalam pengisian konten (software) yang berkelanjutan. Oleh karena itu, paradigma pembangunan harus segera digeser dari sekadar penciptaan tempat (placemaking) menuju aktivasi ruang (space activation).

Kunci keberhasilannya terletak pada kerelaan pemerintah daerah untuk menyerahkan “kunci” kurasi acara kepada komunitas kreatif lokal, bukan birokrat. Tanpa agenda rutin yang tumbuh secara organik seperti panggung musik harian, pameran kriya, hingga lokakarya digital tempat ini hanya akan menjadi taman beton yang kehilangan nyawanya.

Dalam upaya menghidupkan ruang tersebut, Belungguk Point harus mampu memanfaatkan Unique Selling Point (USP) Bengkulu yang sangat kuat, yakni narasi sejarah mulai dari Bumi Rafflesia, jejak pengasingan Soekarno, hingga kemegahan Fort Marlborough. Namun, sejarah yang sering dianggap “berat” ini harus berani dikemas ulang menjadi produk budaya pop (pop culture) yang lebih “renyah” agar relevan bagi Gen-Z dan milenial. Area ini idealnya menjadi etalase modern di mana identitas Bengkulu tidak dijual lewat narasi buku teks yang kaku, melainkan diterjemahkan ke dalam fashion kekinian, kuliner fusi, seni instalasi, dan aplikasi digital. Di sinilah kreativitas diuji bagaimana mengemas ulang identitas lama menjadi relevansi baru yang memikat pasar masa kini.

Untuk menopang visi besar tersebut, masa depan ekonomi kreatif Bengkulu tidak bisa lagi hanya bertumpu pada kucuran dana APBD. Belungguk Point harus menjadi simbol nyata dari kolaborasi Hexahelix yang melibatkan enam pilar utama Pemerintah, Akademisi, Dunia Usaha, Komunitas, Media, serta aspek Legal/Regulasi secara simultan. Kita perlu melihat sektor swasta mengambil peran aktif melalui dana CSR untuk mendanai inkubator bisnis kreatif, sementara kampus-kampus menjadikan area ini sebagai laboratorium praktik nyata bagi mahasiswa desain dan seni. Hanya dengan keterlibatan lintas sektor yang konkret inilah, Belungguk Point dapat bertransformasi menjadi katalisator kemajuan ekonomi kreatif Bengkulu yang sesungguhnya.

Tanpa ekosistem yang saling menghidupi ini, para pelaku kreatif Bengkulu akan terus “hijrah” ke Jawa untuk mencari panggung. Belungguk Point adalah “wajah”, tetapi ekonomi kreatif adalah “nyawa”. Jika dikelola dengan mindset lama (proyek birokrasi), ia akan stagnan. Namun, jika dikelola dengan mindset entrepreneurial dan kolaboratif, Belungguk Point bisa menjadi titik nol kebangkitan Bengkulu sebagai kekuatan ekonomi kreatif baru di Sumatera. Mari kita “belungguk” bukan hanya untuk duduk diam, tapi untuk berkarya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *