Grup Musik Etnik Ka Ga Nga Bengkulu Menuju Panggung Internasional Lake Toba Traditional Music Festival 6.0

BERITA

8/31/20262 min baca

A group of Indonesian musicians and performers in traditional attire posing with gongs and giving thumbs up.
A group of Indonesian musicians and performers in traditional attire posing with gongs and giving thumbs up.

BENGKULU — Langkah besar kembali ditorehkan oleh para seniman tradisi Bengkulu. Grup musik etnik kebanggaan daerah, Ka Ga Nga, secara resmi dilepas untuk bertolak dan manggung dalam ajang bergengsi tingkat nasional hingga internasional, Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 6.0. Perhelatan akbar ini dijadwalkan berlangsung pada 5–6 September 2026 mendatang di The Caldera Nomadic Escape dan Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.Sebelum bertolak, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Iskandar Mulia Siregar, menyempatkan diri hadir secara langsung untuk meninjau persiapan akhir sekaligus memberikan dukungan moril kepada para personel Grup Musik Ka Ga Nga. Kehadiran ini menjadi suntikan semangat tersendiri bagi para musisi tradisi yang siap menggebrak panggung festival berstandar global tersebut.

Mengusung "Pulse of Sound" di Panggung Dunia

LTTMF 6.0 tahun ini mengusung tema utama “Pulse of Sound” atau terjemahan dari “Nadi Bunyi”. Tema ini diangkat sebagai pengingat akan histori musikal di kawasan Danau Toba yang bersumber langsung dari alam, seperti kayu dan pohon, yang dirangkai sedemikian rupa menurut wilayah puaknya masing-masing. Isu kelestarian alam dan reboisasi menjadi pesan penting yang disuarakan, mengingat keberlangsungan alat musik tradisional sangat bergantung pada terjaganya ekosistem alam.

Sebagai salah satu penampil yang mewakili Provinsi Bengkulu, Ka Ga Nga akan berdampingan dengan sejumlah grup musik etnik terkemuka dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Lampung, Palembang, Aceh, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Tak hanya itu, festival ini juga menghadirkan pertunjukan internasional dari berbagai negara, seperti A-Jak Drum Troupe (Korea), Sun Der (Thailand), dan Nadi Singapura (Singapore).

Puncak acara atau Big Festival LTTMF 6.0 di Humbang Hasundutan tahun ini juga menjadi momentum penting karena memasuki tahun pertama penyelenggaraan dengan skema genap. Ajang ini menghadirkan Lake Toba Music Mart, sebuah ruang strategis bagi para musisi world music untuk memamerkan karyanya di hadapan para produser, promotor, dan delegasi festival tingkat dunia.

Beberapa delegasi internasional terkemuka yang hadir di antaranya Prof. Andrew Timar (Kanada), Bagas Indyatmono (Indonesia), Ryuji Noda (Jepang), Anup Kutty (India), Agus Setiawan Basuni (Indonesia), Riduan Zailani (Nadi Singapura), hingga Satria Ramadhan (Indonesia). Kehadiran para kurator dan booking agent global ini membuka peluang emas bagi karya-karya musik etnik nusantara untuk menembus pasar internasional.

Kolaborasi Hexa Helix dan Gotong Royong Berbagai Mitra

Keberangkatan Ka Ga Nga ke ajang LTTMF 6.0 tidak lepas dari sinergi kuat dan dukungan penuh dari berbagai pihak. Sejumlah mitra strategis turut memberikan sokongan nyata bagi penampilan Ka Ga Nga kali ini, di antaranya:

  • Mode by Cheka

  • Kasiko

  • Swarna Karya

  • RGS Bengkulu

  • Stubuh Percussion

  • Sebumi

  • Svara Bumei Betuah

  • Upheksa Uranika

  • Rentak Gading

  • Likur Laboratory

  • BLUD SMKN 7 Bengkulu

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga disampaikan kepada Kementerian Kebudayaan, Rumah Karya Indonesia, serta jajaran penyelenggara Big Festival LTTMF atas ruang dan fasilitasi yang diberikan bagi seniman tradisi daerah.

Melalui keikutsertaan ini, Grup Musik Ka Ga Nga tidak hanya membawa nama Bengkulu, tetapi juga membuktikan bahwa akar budaya lokal mampu berbicara banyak di kancah seni pertunjukan global, menjaga nadi bunyi tradisi agar terus berdenyut melintasi zaman.